
Awal Juli 2006, kami menginjakan kaki di pulau Karapan Sapi, Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep.
Kami yang buta terhadap keadaan pulau ini membuat ngeri setiap cerita yang datang dari orang-orang mengenai budaya yang melekat pada mereka.
Namun, semua itu menjadi sampah ketika kami bergabung dengan masyarakat setempat. Baru kenal sebentar saja, kami sudah di sambut dengan hangat.
Selang beberapa hari, kami diajak warga setempat -tempat kami bertugas-untuk keliling kota Sumenep. Di antaranya ke Masjid Agung Sumenep, Kraton Sumenep, Makam para Raja Sumenep dan persinggahan terakhir adalah Lombang Beach.
Lombang Beach, sebuah pantai eksotik di sebelah timur Kecamatan Batang-Batang, Semenep, pulau Madura. Pantai yang dipenuhi pohon cemara udang (jenis kasuarina) yang menjadi benteng hijau ini memberikan kesejukan jiwa bagi penikmatnya. Seperti pada umumnya, pada gardu pandang pantai Lombang kita akan menemukan ucapan basa basi, "Selamat Datang".
Pantai ini cocok untuk mereka yangs sedang Fall in Love, berwisata keluarga, atau menjadi tempat romantis bagi pasangan yang ingin menikmati indahnya berduaan.
Pasir putih yang terbentang serta air yang jernih biru menambah keindahan pesona Lombang.
Selepas berkeliling kota dan dalam rangka menghadapi tugas yang cukup berat, saya bersama teman-teman mencoba melepas penat dan rasa gugup yang menghinggap. Bermain air, berayun-ayun seperti anak kecil serta bermain bola menjadi
medianya.
medianya. Cukup lama kami bermain, rasa lapar dan haus pun tak terelakan. Singgah sejenak di warung gubuk milik penduduk setempat kami memesan kelapa muda dan beberapa makanan ringan.
Obrolan kecil berlangsung, bukan hanya untuk terlihat lebih bersahabat tapi lebih jauh mencari informasi mengenai wilayah setempat, kondisi sosial, ekonomi dan sebagainya. Maklum, tugas dari kampus harus kami jalankan dikemudian hari.
Menurut warga sekitar, H. Nawawi, mengatakan bahwa pohon cemara udang yang terbentang panjang tersebut sudah cukup lama keberadaannya namun bukan tumbuh secara alamiah melainkan sengaja ditanam oleh penduduk sekitar atas perintah dari pemerintah setempat.
Pada dasarnya pantai ini cukup mempunyai nilai jual yang tinggi namun, sayang sepertinya pemerintah setempat tidak mengelola dengan baik segala sesuatunya. Mulai dari penginapan yang terbatas, ketersediaan food court yang kurang layak, akses jalan yang cukup jauh, promosi yang terbatas dan lain sebagainya.
Menurut pegawai dinas pariwisata setempat pengunjung pantai lombang tidak hanya datang dari kalangan domestik saja, melainkan wisman pun sering datang ke pantai lombang sebagais alah satu tujuan wisatanya. Seperti yang di alami Zaki, wisatwan lokal asal Banyuwangi, ia mengeluhkan kondisi jalan dan serta akses yang terbatas untuk menggunakan transportasi umum menuju Lombang.
Pantai Lombang sekiranya dapat bersaing dengan pantai-pantai di Bali yang eksistensinya, keeksotisannya sudah melanglang buana ke berbagai penjuru dunia.
Senja semakin menjauh, kami pun berlomba bersama senja untuk segera lekas pulang keperaduan.

waaa...
BalasHapusternyata memang indah ya...
saya punya rencana dalam waktu dekat pingin jalan-jalan ke madura cari pantai. setelah melihat foto-fotonya, jadi makin mantap nih rencana jalan-jalannya...
thanks ya